MEREK SUSU YANG MENGANDUNG BAKTERI SIANG INI AKAN DI UNGKAP

MEREK SUSU YANG MENGANDUNG BAKTERI SIANG INI AKAN DI UNGKAP

RADAR JAMBI:TONI.S

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih
Siang Ini, Merek Susu Berbakteri Diungkap
Susu dengan berbagai merek ini terkontaminasi Enterobacter sakazakii.
Kamis, 10 Februari 2011, 09:04 WIB
Ita Lismawati F. Malau
Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih akan mengumumkan merek susu formula berbakteri di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Rencananya jam 11 siang nanti,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas DepKominfo Gatot S Dewa Broto saat dihubungi, Kamis 10 Februari 2011.

Pada pemberian keterangan publik ini, kata dia, Menkes hanya didampingi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta Institut Pertanian Bogor (IPB). “Menteri Kominfo (Tifatul Sembiring) tidak ikut. Dia hanya menyambut saja,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah diperintahkan Mahkamah Agung (MA) mengumumkan hasil penelitian yang dilakukan IPB mengenai sejumlah merek susu bayi yang terkontaminasi Enterobacter sakazakii.

Perintah MA ini memenangkan gugatan yang diajukan ayah dua anak, David ML Tobing. Dalam putusan kasasi itu, MA menjabarkan sedikit hasil penelitian. Racun dari bakteri Enterobacter sakazakii menyebabkan enteritis (radang usus), sepsis (keracunan yg disebabkan oleh hasil proses pembusukan), dan meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang).

Dalam kasus ini, Menkes sudah menjelaskan bahwa susu tersebut aman dikonsumsi selama diaduk menggunakan air dengan suhu lebih dari 70 cerajat Celcius.

Pemerintah Akan Umumkan Susu Bayi Berbakteri
Penelitian IPB membuktikan sejumlah merek susu bayi terkontaminasi Enterobacter sakazakii.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (Abror Rizki)

Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta Institut Pertanian Bogor (IPB) akan mengumumkan susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii. Pengumuman ini merupakan perintah dari Mahkamah Agung (MA).

“Akan diumumkan di Kominfo (Kementerian Informasi dan Informatika) Kamis 10 Februari mendatang,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di Kemenkes Jakarta, usai meneken memorandum of understanding (MoU) Pembangunan Pusat Jantung di Rumah Sakit Al Syifa, Gaza, Palestina, Senin 7 Februari 2011. Indonesia menghibahkan Rp20 miliar untuk pusat jantung di Gaza ini.

Menkes menjamin susu yang nanti diumumkan, tidak beresiko membahayakan konsumen jika diolah sesuai prosedur tertentu. “Sebetulnya jika diaduk dengan air bersuhu 70 derajat (Celcius), bakteri akan mati,” kata dia.

Kementerian sendiri, kata dia, tidak menganjurkan penggunaan susu formula ini bagi bayi berusia di bawah enam bulan, khususnya bayi prematur. “Kami anjurkan ibu memberikan ASI, bukan susu formula bagi bayi (baru lahir) untuk mencegah resiko buruk,” jelas Endang.

Seperti diberitakan sebelumnya, Majelis Kasasi MA memenangkan penggugat David ML Tobing dalam kasus susu bayi berbakteri ini. Dalam pertimbangannya MA memaparkan sedikit hasil penelitian IPB yang diketuai Sri Estuningsih, dan dipublikasikan melalui situs kampus pada 17 Februari 2008 tentang sejumlah susu formula yang tercemar.

Bakteri Enterobacter sakazakii ini dapat menghasilkan enterotoksin, atau bahan atau zat racun yang tahan panas. Dampak racun ini berbahaya bagi bayi yang baru lahir.

Seperti dikutip dari situs MA, racun dari bakteri itu menyebabkan enteritis (radang usus), sepsis (keracunan yg disebabkan oleh hasil proses pembusukan), dan meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang).

Peneliti: Tak Etis Buka Nama Susu Berbakteri
Kemenkes juga mengaku bukan pihak yang seharusnya memublikasikan hasil penelitian IPB.

Meski Mahkamah Agung (MA) sudah menyatakan penelitian Institut Pertanian Bogor mengenai susu formula berbakteri Enterobacter Sakazakii harus dibuka, Kementerian Kesehatan sebagai salah satu pihak tergugat mengaku lembaganya bukan pihak yang harus memublikasikan penelitian itu.

“Setahu saya, Kemenkes tidak pernah memublikasikan cemaran bakteri dalam susu,” kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat 28 Januari 2011. Namun, sambungnya, Kemenkes tetap akan mempelajari putusan tersebut.

Sementara itu, ketua penelitian susu tercemar ini, Sri Estuningsih, mengatakan akan melakukan koordinasi secara institusi dulu untuk menanggapi putusan MA. Koordinasi, kata dia, juga akan dilakukan dengan Kemenkes dan Badan Pengawas Obat dan Makanan. “Itu artinya kami perlu melakukan kajian terlebih dahulu mengenai putusan ini,” katanya.

Namun, sebagai peneliti Sri menyatakan, pihaknya tidak dapat menyampaikan data produsen susu formula yang diketahui mengandung Enterobacter Sakazakii. “Secara etika kami akan menjaga data tersebut dan belum dapat mempublikasikannya,” ujarnya.

Sri memastikan penelitian yang dilakukannya tidak memiliki maksud dan tujuan lain kecuali untuk melihat kemungkinan adanya kontaminasi bakteri dalam susu formula. “Sesuai dengan tujuannya, kami tidak menyebut nama,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua MA Harifin Andi Tumpa tidak mempermasalahkan sikap peneliti IPB yang seperti itu. “Setiap orang memiliki penilaian. Tapi itulah pandangan hukum majelis,” katanya. Untuk itu, Tumpa mempersilakan kepada para pihak yang keberatan dengan putusan MA itu untuk mengajukan upaya hukum lain.

Bakteri di Susu Bayi Ancam Selaput Otak
Selain itu, bakteri Enterobacter sakazakii juga mengakibatkan radang usus, keracunan.

Mahkamah Agung (MA) memerintahkan agar Menteri Kesehatan RI dan lembaga terkait mengumumkan hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai susu formula yang tercemar bakteri Enterobacter sakazakii. Perintah ini juga berlaku bagi IPB dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam pertimbangan Majelis Kasasi MA, hakim memaparkan sedikit hasil penelitian IPB yang diketuai Sri Estuningsih, dan dipublikasikan melalui situs kampus pada 17 Februari 2008. Bakteri Enterobacter sakazakii ini dapat menghasilkan enterotoksin atau bahan atau zat racun yang tahan panas.

Dampak racun ini sangat berbahaya bagi bayi yang baru lahir. Seperti dikutip dari situs MA, racun yang dihasilkan bakteri tersebut menyebabkan enteritis (radang usus), sepsis (keracunan yg disebabkan oleh hasil proses pembusukan), dan meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang).

Sementara itu, dilansir dari wikipedia, tingkat kematian akibat infeksi Enterobacter Esakazakii mencapai 40-80 persen. Sebanyak 50 pasien yang dilaporkan menderita infeksi E. Sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa.

Pemberian nama bakteri ini sendiri untuk menghormati salah satu bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii.

Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk.

Pemohon gugatan ini, David ML Tobing mengapresiasi putusan MA yang melindungi masyarakat. “Ini putusan yang sangat positif,” kata dia saat dihubungi Jumat 28 Januari 2011. “Menkes harus buka nama-nama produk susu yang terkontaminasi.”

Dia meminta agar Menteri Kesehatan, BPOM, dan IPB melindungi masyarakat ketimbang perusahaan yang memproduksi susu berbakteri. “Seharusnya IPB sebagai lembaga pendidikan, tidak perlu dipaksa-paksa pengadilan lah,” tegasnya.

Dia pun menolak anggapan yang menyebutkan penelitian ini akan membuat perusahaan susu bangkrut.

KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK UMUMKAN SUSU TERCEMAR BAKTERI PERUSAK OTAK
RADAR JAMBI:TONI.S

Sufor Tercemar Akan Diumumkan Komnas PA
Kamis, 10 Februari 2011 | 15:38 WIB

Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait usai menjenguk korban penembakan oknum polisi Polsek Koja Muhammad Rifky di RS Polri, Kramatjati, Jakarta, Selasa (15/12/2009).

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) berencana mengambil alih pengumuman nama 22 merek produk susu formula yang tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii. Tindakan tersebut akan diambil setelah menerima sita putusan eksekusi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Dalam konferensi pers di Kemenkominfo tadi, kami menyayangkan Kemenkes, BPOM dan IPB tidak mengumumkan. Padahal, pengumuman merek-merek susu formula itu dinantikan oleh menjadi hak kita sebagai warga negara,” kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, Kamis (10/2/2011) di Jakarta.

Komnas PA akan mendaftarkan permohonan sita eksekusi ke PN Jakarta Pusat, Senin (14/2/2011). Bila sita eksekusi diperoleh, maka Komnas PA akan segera mengumumkan merek-merek itu kepada publik.

“Sebab, data produk sufor tercemar itu masih berada di tangan IPB, kita tidak punya,” kata Arist.

Selain itu, karena Menteri Kesehatan, Badan POM atau IPB tidak mengumumkan, Komnas Anak menilai itu termasuk kategori pidana yang wajib dilaporkan ke polisi.

“Setelah kita umumkan nanti, produsen susu harus jawab keresahan. Caranya dengan minta maaf kalau produk yang mereka bikin antara tahun 2003 dan 2006 sudah tercemar bakteri Enterobacter sakazakii,” jelasnya.

IPB Tidak Boleh Cuci Tangan
Kamis, 10 Februari 2011 | 13:36 WIB

Sikap Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tak mau mengumumkan merek dagang susu formula anak-anak dan makanan bayi yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) karena alasan legal formal dikritik oleh Marius Widjajarta dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI).

“IPB tak boleh cuci tangan,” kata Marius ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (10/2/2011) di Jakarta.

Seperti diwartakan, IPB menolak mengumumkan merek dagang dengan alasan pihaknya belum menerima amar putusan Mahkamah Agung dari PN Jakarta Pusat.

Menurut Marius, IPB tidak bisa hanya menunggu perintah pengadilan. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan hak masyarakat untuk memeroleh informasi yang benar, jelas, dan jujur seperti yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Informasi tersebut juga erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat.

“IPB harus memiliki tanggung jawab moral. Sebagai akademisi, jangan setelah dia lempar masalah, terus dia diam. Ini bukan sikap akademisi yang baik. Dan ini menyangkut institusi. Jangan main-main,” kata Marius.

Ketika ditanya apakah sikap IPB dan juga Kementerian Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan yang kompak tak sebut merek dagang ini cerminan intervensi dunia industri, Marius tak menjawabnya dengan tegas.

“Bisa saja terjadi konflik perdagangan. Tapi, kita belum bisa buktikan sampai ke sana. Yang kita pikirkan, mengapa putusan Mahkamah Agung tidak dilaksanakan. Padahal Mahkamah Agung adalah institusi hukum tertinggi. Pada dasarnya masyarakat tak meminta banyak, hanya umumkan merek dagang susu yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii,” katanya.

Apa Sih Enterobacter Sakazakii Itu?
Kamis, 10 Februari 2011 | 08:41 WIB

Hari ini, Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) akan mengklarifikasi dan mengumumkan soal cemaran bakteri Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan makanan bayi. Pengumuman nama-nama merek susu yang tercemar ini akan dilakukan di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) telah memerintahkan Kementerian Kesehatan, BPOM dan IPB untuk mengumumkan nama produsen susu formula yang ditemukan mengandung bakteri tersebut.
Perintah itu dikeluarkan karena ada salah seorang warga yang menggugat hasil penelitian itu dan menuntut pemerintah mengumumkan para produsen susu sehingga bisa mengambil tindakan pencegahan. MA yang memenangkan gugatan itu kemudian memerintahkan ketiga pihak, yakni Kemenkes, Badan POM, dan IPB mengumumkan nama produsen.
Berdasarkan hasil penelitian IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut. Penelitian sendiri telah dilakukan pada 2008, tetapi ketiga pihak tersebut tidak bersedia mengumumkan.
Untuk sekadar kembali mengingatkan, berikut adalah artikel dari Dr Widodo Judarwanto SpA yang mengulas informasi mengenai bakteri Enterobacter sakazakii. Apakah cemaran bakteri ini berbahaya pada bayi atau anak? Dan bagaiamana hal itu bisa terjadi?
Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya.
“Enterobacter sakazakii”
E. sakazakii pertama kali ditemukan pada 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, risiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.
Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9,4 per 100.000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (< 1.5 kg) . Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif E. sakazakii. E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari keluarga enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae. Pada 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan, dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53-54 persen dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter.
Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih, yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru, yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies.
Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strain kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan, diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.
Meskipun sangat jarang, infeksi karena bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.
Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau risiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80 persen pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.
Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 58 derajat celsius dalam pemanasan rehidrasi susu formula.
Pencemaran
Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine) sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.
Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.
Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.
Manusia yang berada dalam proses memerah dan mengolah susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, embusan napas manusia ketika proses memerah dan mengolah susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.
Antisipasi
Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa negara tersebut sebenarnya Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), United States Food and Drug Administration (USFDA) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.
Adapun susu formula cair yang siap saji dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Dengan demikian, di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya.
Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi risiko infeksi tersebut adalah cara penyajian yang baik dan benar. Di antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setiap kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan hang time atau waktu antara kontak susu dan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan risiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut.
Hal lain yang penting adalah memerhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi, dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.
Terlepas benar-tidaknya akurasi temuan tersebut, sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA, tetapi tidak terjadi kasus luar biasa. Hal ini karena mungkin sebagian besar adalah kuman non-pathogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apa pun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan.
Susu yang terkontaminasi penyebab infeksi:
Clostridium botulinum, satu kasus infeksi (Inggris, 2001) Enterobacter sakazakii, beberapa kasus (beragam negara) Salmonella agona, satu kasus infeksi (Perancis, 2005) Salmonella anatum, satu kasus infeksi (Inggris, 1996) Salmonella bredeney, dua kasus (Australia, 1977; Perancis, 1988) Salmonella ealing, satu kasus (Inggris, 1985) Salmonella london, satu kasus (Korea, 2000) Salmonella tennessee, satu kasus (Amerika Serikat, Kanada, 1993) Salmonella virchow, satu kasus (Spanyol, 1994)
Susu terkontaminasi bakteri di rumah sakit :
Citrobacter freundii, satu kasus Enterobacter sakazakii dan Leuconostoc mesenteroides, satu kasus Enterobacter sakazakii, beberapa kasus Escherichia coli, satu kasus Salmonella isangi, satu kasus Salmonella saintpaul, satu kasus Serratia marcescens, satu kasus.
(Dr Widodo Judarwanto SpA adalah dokter spesialis anak dari RS Bunda Jakarta, Klinik Kesulitan Makan, Jl. Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih, Jakarta Pusat)

Menkes Diminta Buka Merek Susu Berbakteri

Kementerian Kesehatan RI bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta Institut Pertanian Bogor (IPB) diminta segera mengumumkan merek-merek susu yang telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii sesuai hasil penelitian Sri Estuningsih dari IPB. Publikasi harus transparan melalui media massa, baik media cetak maupun elektronik.

“Publikasi sangat penting agar anak saya dan anak-anak bangsa kita yang pernah meminum susu sesuai hasil penelitian itu bisa segera diperiksa di rumah sakit,” kata David ML Tobing, Jumat ( 4/2/2011 ) di Kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak, Jalan TB Simatupang, Jakarta Timur.

David mendaftarkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap IPB, BPOM dan Menteri Kesehatan RI saat itu Siti Fadilah Supari pada 17 Maret 2008 ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Inti gugatannya, keresahan David terhadap hasil penelitian yang dipublikasikan IPB.

Dalam gugatan, hasil penelitian itu hanya menyatakan susu-susu formula yang beredar di masyarakat telah tercemar Enterobacter sakazakii. “Sayangnya, para tergugat tidak mengumumkan merek-merek susu yang terkontaminasi bakteri berbahaya itu,” jelas David.

Dia tidak ingin pemerintah diam saja atau hanya mengumumkan merek-merek itu secara pribadi lewat bisikan ke telinganya atau surat. “Kalau perlu publikasinya pakai siaran langsung di media biar tidak meresahkan masyarakat,” katanya.

David menambahkan, pekan depan diharapkan pemerintah sudah menjalankan putusan Mahkamah Agung yang sudah dimuat di situs resmi lembaga kehakiman tertinggi di Indonesia itu. “Bila perlu, pekan depan supaya warga tidak terkatung-katung,” ucap pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.

INILAH 99 MEREK SUSU YANG BIKIN HEBOH MASYARAKAT

RADAR JAMBI:TONI.S

Inilah Merek Susu Formula yang Sudah Diteliti BPOM
Jumat, 11 Februari 2011 | 08:11 WIB

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara rutin menguji dan meneliti sampel beberapa produk susu formula yang beredar di pasaran.

Pada 2009, misalnya, BPOM mengambil sebanyak 11 sampel susu formula dan pada 2010 mengambil sebanyak 99 sampel. Tahun 2011, hingga Februari ini, BPOM mengambil sebanyak 18 sampel.

Menurut Kepala BPOM Kustantinah, hasil pengujian terhadap sampel sejumlah produk tersebut menunjukkan tidak ditemukan adanya cemaran Enterobacter sakazakii. Pengumuman BPOM ini juga sekaligus membantah kabar yang sempat beredar bahwa beberapa merek susu mengandung Enterobacter sakazakii.

Berikut merek susu formula yang telah diuji terhadap parameter E.Sakazakii oleh BPOM. Mayoritas yang diteliti adalah susu untuk bayi 0-1 tahun. Tetapi bukan berarti susu yang tidak tercantum dalam daftar ini tidak aman untuk dikonsumsi.

Mereka yang beresiko terhadap infeksi bakteri E.Sakazakii di antaranya adalah bayi dengan sistem imun rendah seperti bayi neonatal (usia 7-28 hari) dan bayi yang lahir prematur.

TAHUN 2009 :

(NOMOR, NAMA SAMPEL, PRODUSEN KEMASAN NO BATCH/Exp Date, HASIL)

1 FRISIAN FLAG TAHAP I MD. 810409118005 PT. FRISIAN FLAG INDONESIA karton IPR SW 14 EXP.OKTOBER 2010 Negatif

2 SUSU LACTONA 1 MD. 810412070003 PT. MIROTA KSM INC karton 3KXA1 EXP.MEI 2010 Negatif

3 LACTOGEN – 1 ML. 810411051018 PT. NESTLE INDONESIA karton 828901894A EXP.JANUARI 2010 Negatif

4 LACTOGEN – 1 MD. 810413370001 PT. NESTLE INDONESIA karton 9071022711 EXP.JUNI 2010 Negatif

5 SUSU LACTOGEN 1 MD. 810413370001 PT. NESTLE INDONESIA karton 9038022731 EXP.MEI 2010 Negatif

6 SGM TAHAP I MD.810412270001 PT. SARI HUSADA karton 260109S1C EXP.JANUARI 2011 Negatif

7 VITALAC BL MD. 809010195008 PT. SARI HUSADA karton 011208VL2 EXP.DESEMBER 2010 Negatif

8 SUSU SGM 1 MD. 810412270001 PT. SARI HUSADA karton 301108S1C EXP.NOVEMBER 2010 Negatif

9 SGM – 1 MD. 810412270001 PT. SARI HUSADA karton 140608S1E EXP.JUNI 2010 Negatif

10 VITALAC – 1 MD. 810412259001 PT. SARI HUSADA karton 171208V1C EXP.DESEMBER 2010 Negatif

11 SGM TAHAP 1 MD. 810412270001 PT. SARI HUSADA karton 090209S1C EXP.PEBRUARI 2011 Negatif

TAHUN 2010 :

(NOMOR, NAMA SAMPEL, PRODUSEN KEMASAN NO BATCH/Exp Date, HASIL)

1 Anmum Infacare ML.510406002076 PT. Fontera Brand Indonesia Kaleng 12122009 EXP.11122011 Negatif

2 Frissian Flag 1 MD.810409118005 PT. Frisian Flag Indonesia karton UBI SW 16:01 EXP. Juli 2011 Negatif

3 Frissian Flag Tahap 2 MD.810309117005 PT. Frisian Flag Indonesia karton FKB TM 08.44 EXP. Des 2011 Negatif

4 Frissian Flag 123 Madu MD.807009128005 PT. Frisian Flag Indonesia karton EW4 EXP. Agustus 2011 Negatif

5 Frissian Flag Tahap 1 MD.810409118005 PT. Frisian Flag Indonesia karton RRT SW EXP.Feb 2012 Negatif

6 Frissian Flag Tahap 2 MD.810309117005 PT. Frisian Flag Indonesia karton EEO EXP. MARET 2012 Negatif

7 Frissian Flag Tahap 1 MD.810409118005 PT. Frisian Flag Indonesia karton HEHMZ EXP. Mei 2012 Negatif

8 Frissian Flag MD.810409118005 PT. Frisian Flag Indonesia karton UGJSW 11:10 EXP. Jul-12 Negatif

9 Frissian Flag 2 MD.810309117005 PT. Frisian Flag Indonesia karton YFKSW EXP.Dec 2011 Negatif

10 Frisian Flag Tahap I MD.810409118005 PT. Frisian Flag Indonesia karton QDO SW EXP.JUNI 2011 Negatif

11 Frisian Flag Tahap I MD.810409118005 PT. Frisian Flag Indonesia karton IBD EXP.OKTOBER 2010 Negatif

12 Fresian Flag Coklat MD.805309148005 PT. Frisian Flag Indonesia karton RLM Negatif

13 Frisian Glag Madu MD.805309152005 PT. Frisian Flag Indonesia karton LDD Negatif

14 Sun baby Tomat Wortel MD 810110042188 PT. Gizindo Prima Nusantara karton P806:53/ 11 Des 2011 Negatif

15 Bubur Bayi Sun Sari Buah 6 Bulan MD 810110042188 PT. Gizindo Prima Nusantara karton P209,07/ 12 Maret 12 Negatif

16 SUN Beras Merah MD 810110030188 PT. Indofood CBP Sukses Makmur karton – / 10 Mei 2012 S2 Negatif

17 Indomilk Coklat Instant MD.805309086015 PT. Indolakto karton 09P2410J EXP. Mei 2012 Negatif

18 Indomilk Full Cream MD.805309085015 PT. Indolakto karton 08P1710J EXP. Mei 2012 Negatif

19 Indomilk Susu Bubuk Full Cream MD.805309087015 PT. Indolakto karton 4,150609003 Negatif

20 Morinaga BMT Platinum 0-6 Bulan MD 510410016989 PT. Kalbe Morinaga Indonesia Kaleng 09Z1305KB21 EXP. 28 Dec 11 Negatif

21 Chilmil MD.810310020989 PT. Kalbe Morinaga Indonesia karton 09V2502KA31 EXP. 04 Mar 11 Negatif

22 BMT Motinaga MD.810410019989 PT. Kalbe Morinaga Indonesia karton 09X2804KA11 EXP. 2 Mei 2011 Negatif

23 Morinaga BMT Platinum MD.510410016989 PT. Kalbe Morinaga Indonesia Kaleng 09Y0903KB31 EXP.11-12-2011 Negatif

24 Enfamil ML.810411076019 PT. Mead Johnson karton 19SEP092011JJS0929 EXP.19-Mar-11 Negatif

25 Enfamil ML.810411076019 PT. Mead Johnson karton 0033JJS0930 EXP.19 Maret 2011 Negatif

26 Lactona MD.810412070003 PT. Mirota KSN karton OKLN2 EXP.11-2011 Negatif

27 Lactogen 2 MD.810313376001 PT. Nestle Indonesia karton 9365022731 EXP. Maret 2011 Negatif

28 Lactogen 2 MD.810313376001 PT. Nestle Indonesia karton 9343022731 EXP. Maret 2011 Negatif

29 Dancow 1+ Rasa Madu MD.807013337001 PT. Nestle Indonesia karton 41022771 EXP. Mei 2011 Negatif

30 Dancow Nutrigold 1+ MD.807013372001 PT. Nestle Indonesia karton 00980227G1 EXP. Juli 2011 Negatif

31 Lactogen Gold 1 MD.810413370001 PT. Nestle Indonesia karton 105022711 EXP. Juli 2011 Negatif

32 Dancow Full Cream Milk Powder MD.805313199001 PT. Nestle Indonesia karton 01360227E1 EXP. Nov 2011 Negatif

33 Lactogen Gold 2 MD.810313369001 PT. Nestle Indonesia karton 0117022711 EXP.Juli 2011 Negatif

34 Lactogen Susu Formula Lanjutan MD.810313369001 PT. Nestle Indonesia karton Jan-38 EXP. Apr 2011 Negatif

35 NAN Nestle HA 1 ML.510412013040 PT. Nestle Indonesia Kaleng 00640017KMAN 05.03.2010 EXP.05.03.2010 Negatif

36 AL 110 Nestle ML.50702004079 PT. Nestle Indonesia Kaleng 00610346AAMAN0203 2010 EXP.02032012 Negatif

37 Lactogen 2 MD.810313369001 PT. Nestle Indonesia karton 0012022721 EXP. Apr-2011 Negatif

38 Lactogen 2 MD 810313369001 PT. Nestle Indonesia karton 9311022711/ Feb 2011 Negatif 39 Nestle Beras Merah MD 610113237001 PT. Nestle Indonesia Sachet 93520227k12/ Nov 2010 Negatif

40 Lactogen 1 MD 810413370001 PT. Nestle Indonesia karton 26022711/April 2011 Negatif

41 Lactogen Gold 2 MD 810313369001 PT. Nestle Indonesia karton 004702271/ Mei 2011 Negatif

42 Lactogen 2 MD 810313369001 PT. Nestle Indonesia karton 0072022711/ juni 2011 Negatif

43 Lactogen Susu Formula 2 Lanjutan MD 810313369001 PT. Nestle Indonesia karton 0012022722/JUNI2012 Negatif

44 Lactogen Gold 1 MD.810413370001 PT. Nestle Indonesia karton 00 55022721 EXP. Mei 2011 Negatif

45 Nestle Lactogen 1 MD.810413370001 PT. Nestle Indonesia karton 0026022721 EXP.4-1-2011 Negatif

46 Nestle Lactogen 1 MD.810413370001 PT. Nestle Indonesia karton 936302271101:12 Negatif

47 Cerelac Nestle ML 810101001341 PT. Nestle Manufacturing Malaysia karton 93391135LE/032011 Negatif

48 Cerelac Beras Merah ML 8101011017145 PT. Nestle Manufacturing Malaysia karton 00311135LA/ 05/2011 Negatif

49 Bimbi Susu Formula Bayi MD.810413009417 PT. Netania kasih Karunia Pier karton B1L064008 EXP. 01 Maret 2012 Negatif

50 Bimbi Susu Formula Bayi MD.810413009417 PT. Netania kasih Karunia Pier karton B1L17150B EXP.Juni 11 Negatif

51 Nutrilon Hypo-allergenic ML.510402009035 PT. Nutricia Cuijk, Holland Kaleng 15-05-201041 EXP.15/11/2011 Negatif

52 Anlene Actifit Vanilla MD.808509391040 PT. Nutricia Indonesia karton F10NOV093149 Negatif

53 Bebelac susu formula MD.810409335040 PT. Nutricia Indonesia Sejahtera karton 9974002 EXP.’APRIL 2011 Negatif

54 Nutrilon I MD.810409288040 PT. Nutricia Indonesia Sejahtera karton 9905002 EXP.APRIL 2011 Negatif

55 SGM 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 040110S1C EXP. 1-Jan-2012 Negatif

56 Vitalac 1 MD.810412259001 PT. Sari Husada karton 80709V1C EXP.JUNI 2011 Negatif

57 Vitalac 1 MD.810412259001 PT. Sari Husada karton 070709V1C Negatif

58 SGM 1 MD 810412270001 PT. Sari Husada karton 201009SIE/ Okt 11 Negatif

59 SGM Prenutrisi MD 810412270001 PT. Sari Husada karton 211209SIE/ Des 2011 Negatif

60 SGM Prenutrisi 0-6 Bulan MD 810412270001 PT. Sari Husada karton 080410SIE/ Apr 12 Negatif

61 SGM MD 810412270001 PT. Sari Husada karton 150510SIE/ Mei 2012 Negatif

62 SGM Prenutrisi 2 Lanjutan MD.810312271001 PT. Sari Husada karton 30010052G Negatif

63 Vitalac Susu Formula Bayi MD.810412259001 PT. Sari Husada karton 220310V2E/MAR2012 Negatif

64 SGM BBLR MD.81021094008 PT. Sari Husada karton 120210BRA/022012 Negatif

65 Vitalac MD.810412259001 PT. Sari Husada karton 230410V3D Negatif

66 SGM MD.809012327001 PT. Sari Husada karton 150310BPC/MAR2012 Negatif

67 SGM Prenutrisi 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 291109SIC032171 Negatif

68 SGM 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 291209S11 EXP. Des 2011 Negatif

69 SGM Presinutri MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 251009S1C EXP.Okt 2011 Negatif

70 SGM 2 MD.810312271001 PT. Sari Husada karton 211109S26 EXP.1 Nov 2012 Negatif

71 SGM 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 030110S1C EXP.JANUARI 2012 Negatif

72 SGM Presinutri 3 MD.810312271001 PT. Sari Husada karton 250410S2G EXP. April 2012 Negatif

73 SGM 4 Rasa Madu MD.807012263001 PT. Sari Husada karton 270404ML EXP. April 2012 Negatif

74 SGM 3 Eksplor Rasa Vanilla MD.807012266001 PT. Sari Husada karton 110510SVI EXP. Mei 2012 Negatif

75 SGM Prenutrisi 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 130610S1C EXP.Juni 2012 Negatif

76 SGM LLM MD.809012327001 PT. Sari Husada karton 250510LMC EXP. Mei 2012 Negatif

77 SGM BBLR MD.810412328001 PT. Sari Husada karton 280310BRI EXP. Mar-12 Negatif

78 SGM 2 MD.810312271001 PT. Sari Husada karton 121209526 EXP.Des 2011 Negatif

79 Vitalac 2 MD.810312260001 PT. Sari Husada karton 260109V2A EXP. 2011 Negatif

80 SGM Presinutri 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 240110SIE EXP.1-1-2011 Negatif

81 SGM Presinutri MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 090210S1C EXP.02 – 2011 Negatif

82 SGM Presinutri MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 230310S1C EXP.01 Maret 2011 Negatif

83 Vitalac 1 MD.810412259001 PT. Sari Husada karton 230809V1C EXP.Agustus 11 Negatif

84 SGM Presinutri 1 MD.810412270001 PT. Sari Husada karton 241209S1C EXP.1211 Negatif

85 SGM LLM MD.809012327001 PT. Sari Husada karton 13021DLMC EXP.2-1-2012

86 Nutricia Bebelac 1 MD.255610214112 PT. Serena Indo Pangan Industri karton S19495 Negatif

87 SGM BBLR MD.810210194008 PT. Sugizindo untuk PT. Sari Husada karton 270909BRE EXP. September 2011

Negatif 88 SGM 2 MD.810312271001 PT. Sugizindo untuk PT. Sari Husada karton 051209S2A EXP. Des 2011 Negatif

89 Vitalac Bebas Lactosa MD.809010195008 PT. Sugizindo untuk PT. Sari Husada karton 13021OVLC EXP.01/02/2012 0.248 Negatif

90 Vitalac MD.810310190008 PT. Sugizindo untuk PT. Sari Husada karton 170509VIC EXP. Mei 2011 Negatif

91 SGM BBLR MD.810210194008 PT. Sugizindo untuk PT. Sari Husada karton 270110BRC EXP.Jan 2012 Negatif

92 SGM BBLR MD.810210194008 PT. Sugizindo untuk PT. Sari Husada karton 270110BRE EXP.Jan 2012 Negatif

93 S-26 Tahap 1 MD.8810417018124 PT. Wyeth Indonesia karton ON06E2 Negatif

94 S-26 Gold ML.510417001245 PT. Wyeth Nutrisional Singapore Kaleng 19042010OE19B107.209 Negatif

95 S-26 Tahap 1 ML.810417013124 PT. Wyeth Nutrisional Singapore karton 9V13D2 EXP.12 062011 Negatif

96 Lactona MD.810412070003 PT.MIROTA KSM karton 2KLS3 EXP.1011 Negatif

97 S-26 Tahap 1 ML.810417018124 Wyeth Nutritionals (Singapore ) Pte. Ltd karton 9V30D1 EXP.29-6-2011 Negatif

98 S-26 Gold Tahap 1 ML.510417001245 Wyeth Nutritionals (Singapore ) Pte. Ltd Kaleng OA20B1 EXP.19012012 Negatif

99 S-26 ML.810417018124 Wyeth Nutritionals Ireland karton 9L16D1 EXP.PEBRUARI 2011 Negatif

TAHUN 2011 (Sampai Februari)

(NOMOR, NAMA SAMPEL, PRODUSEN KEMASAN NO BATCH/Exp Date, HASIL)

1 BIMBI LOLA RENDAH LAKTOSE MD.810413009417 PT. Netania Kasih Karunia PIER karton BLL 051308 EXP.4/1/2012 Negatif

2 Neosure ML.510415007019 Abott Laboratories Kaleng 9210Q401 Negatif

3 Enfamil A+ ML.810411066019 Mead Johnson Nutrition (Philippines) karton 1550 JLCO915 Negatif

4 Pre NAN ML.510202002079 Nestle Netherland Kaleng 02320346AC Negatif

5 NAN 1 ML.510402003079 Nestle Netherland Kaleng 00960346AD Negatif 6 NL-33 MD.510710017989 PT Kalbe Morinaga Indonesia Kaleng 10X0501KB31 Negatif

7 Morinaga BMT MD.810410019989 PT Kalbe Morinaga Indonesia karton 10T1403KA11 Negatif

8 Lactogen Gold MD.810413370001 PT Nestle Indonesia karton 0091022711 Negatif

9 Nutricia Nutrilon Royal MD.810409408040 PT Nutricia Indonesia Sejahtera karton 1910211 Negatif

10 Nutricia Nutrilon MD.810409288040 PT Nutricia Indonesia Sejahtera karton 9905491 Negatif

11 Bebelac 1 MD.810409335040 PT Nutricia Indonesia Sejahtera karton 0975141 Negatif

12 SGM BBLR MD.810412328001 PT Sari Husada karton 121010BRC Negatif

13 Vitalac Step 1 MD.810412259001 PT Sari Husada karton 210210 V1E Negatif

14 SGM LLM MD.809012327001 PT Sari Husada karton 120210LME Negatif

15 SUSU FORMULA BAYI BIMBI 1 MD.8091213010417 PT. Netania Kasih Karunia PIER, Pasuruan karton B1L244008 EXP.Des 2012 Negatif

16 SUSU BIMBI LOLA MD. 809213010417 PT. Netania Kasih Karunia PIER, Pasuruan karton BLL04130B EXP.2/12/2011 Negatif

17 SUSU FORMULA BAYI SGM PRENUTRISI MD810412270001 PT.SARI HUSADA karton 03121OS1E EXP.Des 12 Negatif

18 S-26 ML.810417018124 Wyeth Nutritional karton 0N05D2 Negatif

Tak Perlu Sibuk Cari Merek Susu Berbakteri
Jumat, 11 Februari 2011 | 11:27 WIB

Saat ini semua orang tua di Indonesia dilanda kekawatiran luar biasa, ketika isu bahaya susu formula mengandung Sakazakii sedang marak.

Semua orang tua rajin berburu internet untuk mencari daftar merek susu terkontaminasi Sakazakii. Dokter sering menerima pertanyaan orangtua apakah sebaiknya susu diganti tajin? Bahkan saat beredar isu yang tidak bertanggung jawab menyebut merek susu tertentu, padahal secara resmi IPB, BPOM dan Menkes belum mengumumkan merek susu itu. Merek apa sajakah susu yang tercemar bakteri Sakazakii ?

Sebenarnya, pertanyaan tersebut tidak perlu terjadi kalau mengetahui bahwa sebenarnya semua susu bisa beresiko mengandung susu berbakteri setiap saat mulai dari jaman dulu hingga detik ini.

Menurut WHO dan FDA semua susu formula tidak steril dan berisiko terkena bakteri termasuk sakazakii. Tetapi tidak usah panik, bakteri tersebut tidak berbahaya seperti yang diduga dan akan mati dengan suhu pemanasan 70 derajat Celsius.

Meski saat ini belum diumumkan, kalaupun jadi diumumkan susu yang lain belum tentu bebas bakteri. Karena saat pemeriksaan itu normal tetapi dikemudian hari tidak menjamin aman bakteri.

Jadi, sebaiknya para orangtua tidak perlu khawatir mencari merek susu yang berbakteri karena semua susu pada dasarnya tidak steril dan berisiko mengandung bakteri tetapi tidak berbahaya.

Orangtua harus mewaspadai dengan pencegahan paling ampuh membunuh bakteri itu dengan mencampur air panas 70 derajat celcius. Justru masyarakat jangan terkecoh oleh berbagai isu yang tidak bertanggung jawab yang dilemparkan pihak tertentu demi kepentingan pribadi.

Pengadilan dan mahkamah Agung memutuskan bahwa pihak IPB sebagai peneliti, BPOM (Balai Pengawasan Obat dan makanan) atau Kementerian Kesehatan untuk segera mengumumkan susu yang tercemar bakteri. Masalah ini timbul karena temuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat beberapa bulan yang lalu.

Berbagai pihak mulai bersuara keras, diantaranya YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Komisi Nasional perlindungan Anak bahkan ketua Ikatan Dokter Indonesia mendukung dan mengecam keras pemerintah untuk mematuhi keputusan pengadilan negeri tersebut. Suara keras tersebut demi menyelamatkan nyawa jutaan anak Indonesia. Tetapi pihak peneliti dan menteri kesehatan karena berbagai tetap bersikukuh bahwa penelitian tersebut belum perlu diumumkan.

Penelitian susu berbakteri adalah wajar

Sebenarnya temuan peneliti IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut, mungkin tidak terlalu mengejutkan. Karena, USFDA (United States Food and Drug Administration) telah melansir sebuah penelitian prevalensi kontaminasi susu di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk formula didapatkan 20 (14 persen) kultur positif E. sakazakii.

Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa negara sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh pihak lain termasuk BPOM yang menyebutkan bahwa susu bubuk komersial aman, karena semata berbeda dalam sensitifitas dan spesifitas alat dan metoda identifikasinya.

Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia, sehingga disinyalir bahwa tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi. Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentan, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab.

Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. Organisma ini dikenal sebagai “yellow pigmented Enterobacter cloacae”.

Berbahaya tetapi relatif aman

Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E. sakazakii, didapatkan berbagai bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula.

Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogenitas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya.

Meskipun berbahaya ternyata kejadian infeksi bakteri ini sangat jarang. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg). Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Pada anak sehat belum pernah dilaporkan terjadi infeksi bakteri ini.

Beberapa hal itulah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi tetapi belum ada laporan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut. Bayangkan peneliti IPB mendapatkan 14 persen, sedangkan USFDA 13,5 produk susu mengandung bakteri E. sakazakii. Tapi, faktanya tidak ada satupun anak yang Indonesia dilaporkan tercemar bakteri itu.

Infeksi bakteri ini sangat jarang dan relatif tidak mengganggu untuk anak sehat. Tetapi pada kelompok anak tertentu dengan gangguan kekebalan tubuh tetap dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa. Gangguan tersebut di antaranya adalah infeksi saluran kencing, neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), sepsis (infeksi berat) dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna).

Semua Merek Sufor Tidak Steril

Masalah terpenting dalam kasus ini mungkin bukan merek susu yang tercemar. Permasalahan sebenarnya adalah semua produk susu bubuk komersial memang bukan produk yang steril. Hal ini juga pernah dialami oleh negara maju seperti Kanada, Inggris, Amerika dan negara lainnya. WHO dan USFDA sudah menetapkan bahwa susu bubuk formula komersial memang tidak steril. Jadi bukan hanya produksi lokal saja yang beresiko tetapi produksi luar negeripun resiko terinfeksi bakteri tidak jauh berbeda.

Melihat beberapa fakta ilmiah tersebut tampaknya berbagai pihak harus arif dan bijak dalam menyikapi kekawatiran ini. Pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan dan BPOM harus menyikapi secara profesional dengan melakukan kajian ilmiah mendalam baik secara biologis, epidemiologis, dan pengalaman ilmiah berbasis bukti (evidence base medicine). Berbagai elemen masyarakat seperti YLKI, Komnas Perlindungan Anak dan Ikatan Dokter Indonesia sebelum mengeluarkan opini sebaiknya harus mencari fakta ilmiah dan informasi yang benar tentang masalah ini.

Pihak pengadilan dan Mahkamah Agung sebelum mengeluarkan keputusan yang sangat penting ini seharusnya melibatkan saksi ahli yang berkompeten dan kredibel. Keputusan yang salah dalam menyikapi masalah ini akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi. Berbagai opini dan sikap yang tidak benar malah dapat mengakibatkan kekawatiran orangtua bertambah.

Bila pemerintah harus mengumumkan susu berbakteri tersebut akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan kekisruhan yang lebih hebat lagi. Dampak yang buruk dan berimplikasi yang luas, baik implikasi hukum, etika penelitian, sosial, dan medis. Kalau pemerintah atau Balai POM mengumumkan merek susu tersebut pasti akan membuat pabrik susu yang bersangkutan akan sekejap gulung tikar.

Dampaknya lebih luar biasa, ratusan ribu bahkan jutaan manusia yang terkait dengan prduksi susu itu akan lebih sengsara. Belum lagi akan timbul dampak hukum baru bagi peneliti, dan pihak yang akan mengumumkan. Menurut etika penelitian selama bukan hal yang berbahaya atau mengancam nyawa manusia maka tidak boleh diumumkan secara luas obyek yang dijadikan bahan penelitian.

Kalaupun merek tersebut diumumkan juga tidak akan menyelesaikan masalah. Belum tentu merek yang lain nantinya juga aman. Bila penelitian tersebut dilakukan setiap periode sangat mungkin ada lagi susu yang tercemar. Karena pada dasarnya susu bubuk komersial adalah produk susu yang paling gampang tercemar bakteri. Bukan tidak mungkin nantinya banyak produk susu lambat laun pasti tercemar bakteri. Bila hal ini terjadi dalam perjalanan waktu tidak mustahil semua susu akan dilaporkan tercemar.

Seharusnya pemerintah mengeluarkan rekomendasi bahwa memang susu komersial bukan produk steril seperti rekomendasi WHO dan USFDA. Hal ini lebih beresiko lebih ringan, karena masyarakat akan lebih waspada dalam pencegahannya. Rekomendasi ini juga merupakan hal yang wajar karena di beberapa negara majupun hal ini sering terjadi. Sebaliknya bila susu bubuk komersial tetap dianggap aman, masyarakat tidak waspada atau lengah dalam proses penyajiannya. Selanjutnya tetap akan berdampak berbahaya pada anak yang kelompok tertentu yang beresiko terinfeksi.

Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajian susu bubuk formula untuk bayi dengan baik dan benar. Pemanasan air di atas 70 derajat Celcius, bakteri yang ada dalam susu akan mati. Sedangkan pada anak yang berisiko seperti bayi prematur dan anak dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh berat direkomendasikan dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji.

Susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Masyarakat tidak perlu sibuk mencari produk susu mana yang tercemar. Meskipun relatif aman, ternyata semua produk susu bubuk komersial memang tidak steril. Tampaknya fenomena ini adalah peringatan Sang Pencipta manusia, bahwa para ibu mulai mengabaikan kehebatan dan keamanan ASI bagi buah hatinya.

(Dr Widodo Judarwanto SpA, dokter spesialis anak dari RS Bunda Jakarta, Klinik Kesulitan Makan, Jl. Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih, Jakarta Pusat)

SUSU BERBAKTERI PERUSAK OTAK SEMAKIN MERESAHKAN MENKES DAN IPB KETAKUTAN

RADAR JAMBI:TONI.S

Meracik susu formula
Menkes: Kami Tak Bisa Ungkapkan Merk Susu
IPB tidak perlu melaporkan hasil penelitian itu kepada Kementerian Kesehatan.
Kamis, 17 Februari 2011, 15:37 WIB

Endang Rahayu Sedyaningsih

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui tidak bisa mengumumkan nama susu formula yang tercemar bakteri Enterobacter sakazakii. Menurut Menteri Endang, bila masyarakat khawatir, jangan pakai susu formula. Tapi gunakan Air Susu Ibu (ASI).

“Kami tidak mau dan tidak bisa mengungkapkan merk,” kata Endang Rahayu di sela rapat dengar pendapat dengan Komisi IX bidang Kesehatan DPR, di gedung parlemen, Jakarta, Kamis 17 Februari 2011.

Menurut Endang, Kementerian Kesehatan tidak mengetahui penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) atas susu formula yang tercemar itu.

IPB, lanjut Endang, tidak perlu melaporkan hasil penelitian itu kepada Kementerian Kesehatan. Karena penelitian itu dilakukan IPB sebagai lembaga independen. “Jadi, kalau masyarakat takut, ya pakai ASI saja,” kata menteri lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat ini.

IPB yang diwakili Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, I Wayan Teguh Witawan, juga menolak mengumumkan susu yang tercemar. Alasannya masih sama, perintah mengumumkan yang tertuang dalam amar putusan Mahkamah Agung belum diterima.

Menkes sendiri sudah membantah tudingan adanya kongkalikong antara pemerintah dengan produsen susu. Selengkapnya di sini.

Karena tidak ada titik temu, DPR kembali mengagendakan pertemuan berikutnya. Kali ini tidak dengan Dekan, tapi dengan Rektor IPB. Menteri Kesehatan juga tetap akan mendampingi. Komisi mengagendakan kembali rapat dengan IPB pada Senin 21 Februari 2011 sekitar pukul 10 pagi.

IPB Akui Tidak Berani Umumkan Susu Tercemar
DPR meminta IPB langsung menuju MA untuk mengambil salinan putusan yang asli.
Kamis, 17 Februari 2011, 15:24 WIB

Ilustrasi: Bayi minum susu

Institut Pertanian Bogor (IPB) berkukuh menolak mengumumkan daftar susu yang tercemar bakteri Enterobacter sakazakii yang berbahaya bagi bayi. Anggota Komisi IX DPR yang membidangi Kesehatan sempat bersitegang dengan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, I Wayan Teguh Witawan, dalam rapat dengar pendapat yang juga dihadiri Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Hingga sekitar pukul 14.30 WIB, rapat yang digelar sejak pukul 11.00 WIB di gedung DPR, Jakarta, Kamis 17 Februari 2011, itu belum juga rampung.

Seluruh anggota Komisi mendesak IPB mengumumkan nama-nama susu berbakteri sesuai penelitian 2006, karena itu sudah merupakan keputusan Mahkamah Agung. Tetapi, desakan itu tidak dipenuhi IPB.

“IPB tidak akan melawan hukum. Tapi, jangan sampai kita terperosok,” kata Teguh. Teguh pun menunjukkan lembaran yang berisi salinan putusan MA. “Ini (sambil mengacungkan lembaran), bukan salinan otentik putusan pengadilan. Jadi tidak bisa digunakan sebagai upaya hukum untuk memojokkan kami,” kata dia.

Teguh meminta DPR jangan memojokkan IPB. IPB akan lebih percaya diri bila amar putusan MA yang asli sudah diterima. “Kemudian baru IPB mengambil sikap,” ujarnya.

Anggota Komisi dari Fraksi Golkar Gandung Pardiman, tidak terima. Menurut Gandung, dalam salinan putusan yang dipegang Teguh itu tertulis, “Di sini ada tulisan; Salinan otentik, silakan menghubungi pengadilan yang memutus perkara. Tapi bapak yang tidak mengambil-ambil. Ini juga jelas salinan otentik,” ujar Gandung.

Teguh sempat diberi kesempatan satu jam untuk pergi menuju ke gedung Mahkamah Agung. IPB diminta langsung mengambil salinan putusan yang asli ke MA.

Tetapi, tawaran itu tidak bisa dilakukan Teguh. “Pengambil keputusan tertinggi IPB adalah rektor. Jadi, kami harus berkonsultasi dulu,” ujar Teguh.

Politisi asal Yogyakarta itu kemudian menanyakan, “Sekarang ini Bapak takut apa sih?” tanya Gandung. Pertanyaan sejenis dan bertubi-tubi juga datang dari anggota komisi dari fraksi lain.

“Jadi, intinya Bapak berani atau tidak mengumumkan, itu yang menjadi pertanyaan besarnya?” desak Gandung. Akhirnya, Teguh pun mengatakan, “Tidak berani.”

IPB: Tahun 2006 Kandung Sakazakii, Kini Tidak
Pada 2009, BPOM menemukan susu formula yang dulu mengandung sakazakii sudah tidak lagi
Kamis, 17 Februari 2011, 12:25 WIB

Meracik susu formula

Institut Pertanian Bogor tetap menolak mengumumkan susu formula yang berdasarkan penelitian pada tahun 2006 mengandung Enterobacter sakazakii yang berbahaya bagi bayi. Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Hewan I Wayan Teguh Witawan, sejak 2009, susu formula tersebut dipastikan telah bebas bakteri berbahaya itu.

Teguh Witawan menceritakan, seorang peneliti IPB tertarik meneliti bakteri tersebut pada tahun 2003 dengan judul “Microbiological Quality of Infant Foods in Indonesia, with special emphasis on Shigella sp., and Other Pathogenic Enterobacteriaceae.”

Kemudian pada 2006, peneliti tersebut meneliti kembali soal bakteri itu di 22 sampel susu formula dengan penelitian berjudul “E. Sakazakii and Enterobacteriacea in Powdered Infant Formula and Follow on Formula.” “Penelitian pada 2006-lah yang menarik perhatian publik,” kata Teguh dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Kamis 17 Februari 2011.

“Lazimnya setelah penelitian,” kata Teguh, “Setiap peneliti di IPB wajib untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Lalu abstraksi dari penelitian akan dimuat di website supaya diakses publik. Inilah rupanya yang mendapat perhatian. Hasil penelitian 2006 ini yaitu dari 22 sampel susu formula, 5 di antaranya mengandung E sakazakii. Sementara untuk makanan bayi, dari 15 sampel, 7 positif E sakazakii.”

Artinya, kata Teguh, bukan berarti semua susu dan makanan bayi dikatakan positif mengandung bakteri yang bisa menimbulkan kematian pada bayi itu. “Hanya lima sampel dari susu formula dan tujuh dari makanan bayi,” katanya.

Lalu tahun 2007, peneliti diminta memberi masukan kepada produsen, perusahaan yang memproduksi susu dan makanan yang diketahui mengandung bakteri berbahaya itu. Tahun 2008, IPB juga berkoordinasi dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). BPOM merespons positif, menerbitkan larangan susu formula dan makanan bayi tercemar bakteri E Sakazakii.

“Tahun 2009, dicek kembali, dari 42 sampel yang diteliti, termasuk yang tahun 2006 diteliti, hasilnya sudah positif bebas E sakazakii,” kata Teguh. “Jadi intinya, pada tahun 2006, ada yang mengandung bakteri, tapi tahun 2009 sudah tidak ada lagi. Sudah diperbaiki oleh perusahaan yang bersangkutan.” (Baca BPOM: Merek Susu yang Bebas Bakteri Sakazakii).

Karena itu, Teguh Witawan membantah keberatan IPB mengumumkan susu yang pada tahun 2006 mengandung bakteri itu mengganggu kredibilitas perguruan dan penelitinya. Hasil penelitian 2006 itu, kata Teguh, sudah dikonfirmasi pakar-pakar di Jerman yakni Dr. Heniz Baker, Lab. Food Microbiology, Maxmillan University Munich, Germany, dan Dr. Steven J. Forsythe, Lab. Microbiology and Food Technology, Nottingham Trent University.

Hasil penelitian bahkan telah dipublikasikan di jurnal internasional, dan telah dipresentasikan di tingkat internasional di Kantor FAO, Roma, Italia.

“Jadi yang bersangkutan punya kredibilitas yang diakui di tingkat nasional dan internasional,” kata Teguh.

Kemudian, untuk diketahui lagi, sampai Juni 2006, belum ada larangan bakteri E sakazakii di dalam bahan makanan untuk bayi. Pelarangan baru dilakukan setelah IPB menghubungi BPOM, katanya.

IPB: Kami Tak Akan Umumkan Susu Berbakteri
“IPB sebagai lembaga penelitian independen tidak bisa ditekan oleh pihak manapun.”
Kamis, 17 Februari 2011, 11:44 WIB

Susu formula

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), I Wayan Teguh Witawan, menegaskan tidak akan membeberkan hasil penelitiannya mengenai susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii ke DPR.

“Karena sampai saat ini amar putusan Mahkamah Agung belum sampai pada kami, jadi kami belum akan mengumumkan sampai putusan itu kami terima,” kata I Wayan Teguh di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 17 Februari 2011.

Menurutnya, keputusan IPB tersebut tidak dapat dipengaruhi oleh pihak manapun. “IPB sebagai lembaga penelitian independen tidak bisa ditekan oleh pihak manapun,” ujarnya.

Kasus ini bermula dari penelitian IPB antara tahun 2003 hingga 2006. Dalam penelitian itu, ditemukan sejumlah susu formula yang mengandung bakteri yang berbahaya.

Berbekal penelitian itu, pengacara David Tobing meminta pengadilan membuka daftar merek susu itu. David lantas mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 17 Maret 2008. Pengadilan mengabulkan gugatannya agar Menkes dan tergugat lainnya mengumumkan secara transparan susu formula yang tercemar.

Namun, putusan itu digugat oleh pihak tergugat yakni Pemerintah dalam hal ini Menteri Kesehatan RI, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, dan Institut Pertanian Bogor. Mereka banding. Namun, lagi-lagi upaya mereka kandas hingga putusan kasasi.

Dalam putusannya, Majelis Kasasi Mahkamah Agung memerintahkan tiga lembaga untuk mengumumkan susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi oleh bakteri Enterobacter sakazakii. Putusan ini dibacakan 26 April 2010 dengan majelis kasasi yang diketuai Harifin A Tumpa dan anggota Muchsin serta I Made Tara.

Atas putusan itu, dalam jumpa pers Kamis, 10 Februari, Menteri Kesehatan mengaku tidak mengetahui hasil penelitian tim IPB pada 2008, yang menyatakan sejumlah susu formula mengandung bakteri berbahaya.

Menurut Menteri Kesehatan, IPB sebagai universitas independen tidak wajib melaporkan hasil penelitiannya kepada Kementerian Kesehatan. IPB juga menolak mengumumkan dengan alasan belum menerima surat keputusan Mahkamah Agung secara resmi.

DPR Panggil Menkes, BPOM & IPB
Fokus pertemuan Komisi IX dengan Menkes, BPOM dan IPB menanyakan realisasi keputusan MA
Kamis, 17 Februari 2011, 05:31 WIB

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih

DPR mengundang Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih untuk membahas soal polemik susu formula yang tercemar bakteri. Selain Menteri Kesehatan, DPR juga mengundang Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM), dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

“Rencananya sekitar jam 10 pagi ini kami akan Rapat Kerja dengan Menkes, Badan POM, Dekan Fakultas Peternakan IPB, dan YLKI,” kata Wakil Ketua Komisi IX DPR yang membidangi Kesehatan, Irgan Chairul Mahfiz, kepada VIVAnews.com.

Menurut Irgan, fokus utama Komisi IX adalah sejauh mana realisasi pelaksanaan keputusan Mahkamah Agung tentang pencantuman bakteri Enterobacter sakazakii pada produk susu formula.

“Kami ingin mendengar langsung penjelasan dari Menkes. Kenapa belum dilaksanakan,” ujar Sekretaris Jenderal PPP ini.

Irgan menegaskan, masyarakat saat ini dilanda kekhawatiran dan pertanyaan besar apakah susu itu berbahaya atau tidak dikonsumsi. Dan, mengapa hingga kini belum juga diumumkan.

“Begitu juga dengan IPB, kami pertanyakan mengapa hasil penelitian tidak dipublikasikan. Dari YLKI, bagaimana soal komplainnya dari masyarakat,” ujar Irgan.

Hal senada disampaikan anggota Komisi IX dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka. Menurut Rieke, Fraksi PDI Perjuangan fokus mendesak agar daftar susu tercemar bakteri segera dipublikasikan.

“Pemerintah harus menjawab riset dengan riset. Bukan dengan asumsi pasar,” kritik Rieke dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, kemarin.

Sebelumnya, Menkes membantah tudingan adanya kongkalikong antara pemerintah dengan produsen susu formula. Justru pemerintah periode inilah yang menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Air Susu Ibu.

Menkes Bantah Kongkalikong dengan Pabrik Susu
Menteri menjamin semua merek susu formula yang saat ini beredar di masyarakat, aman.
Rabu, 16 Februari 2011, 17:39 WIB

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih membantah tudingan adanya kongkalikong antara pemerintah dengan perusahaan susu formula. Menurut Endang, justru pemerintah periode inilah yang merampungkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang penggunaan Air Susu Ibu (RPP-ASI), yang di dalamnya mencantumkan larangan iklan produk susu formula bagi bayi berusia di bawah satu tahun.

“Kalian tahu sendiri. Saya menyusun RPP tentang ASI. Jadi, kalau ada tudingan tentang itu, aneh deh,” kata Endang usai melantik Komite Internship Dokter Indonesia dan Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia di Jakarta, Rabu, 16 Februari 2011.

Menurut menteri lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat ini, bakteri bisa berkembang di mana saja. Bisa jadi, di lain hari akan ada lagi bakteri jenis lain selain Enterobacter sakazakii–yang saat ini termasuk salah satu jenis bakteri baru.

Lalu, mengapa produk-produk yang disinyalir terkontaminasi tidak segera saja diumumkan ke publik?

“Yang mengurus soal penelitian itu kan bukan kami (Kementerian Kesehatan). Kami dengan Badan POM hanya mengurus keamanan pangan saja. Jadi, bukan kewenangan kami mengumumkan hasil penelitian,” Endang menjelaskan.

Menteri Endang memastikan semua merek susu formula yang saat ini beredar di pasar, aman. Tidak ada lagi yang terkontaminasi bakteri. Itu karena sejak 2008 sudah diatur larangan penggunaan bakteri sakazakii. “Kalau mau dilakukan sita jaminan silakan saja. Tapi sebenarnya, kewenangan sita jaminan ini ada di Badan POM bukan di Kementerian Kesehatan, ” katanya.

Komisi IX: Kasus Susu Berbakteri Meresahkan
Penelitian IPB 2003-2006 menemukan susu formula mengandung bakteri Entrobacter sakazakii.

Komisi IX DPR yang membidangi Kependudukan dan Kesehatan akan memanggil Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Kamis mendatang, 17 Februari 2011. Rapat akan dikhususkan membahas soal susu formula yang terindikasi berbakteri.

“Bukan dalam rangka rapat kerja rutin. Spesifik membahas susu formula berbakteri yang membuat resah masyarakat,” kata Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning.

Ke rapat ini, DPR juga akan memanggil Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Komisi IX, kata Ribka, menganggap kasus ini krusial karena sudah membuat publik resah “terutama kaum ibu.”

Kasus ini bermula dari penelitian IPB antara tahun 2003 hingga 2006. Pada penelitian itu ditemukan sejumlah susu formula yang mengandung bakteri Entrobacter sakazakii. Berbekal penelitian itulah, seorang pengacara bernama David Tobing menggugat pemerintah melalui pengadilan untuk membuka daftar merek susu itu.

Majelis Kasasi Mahkamah Agung sudah memerintahkan Menkes RI, IPB, dan BPOM untuk membuka hasil penelitian tersebut, termasuk daftar susu yang diduga terkontaminasi itu. Akan tetapi, PIPB menyatakan belum dapat membukanya dengan alasan belum menerima salinan resmi putusan MA. Adapun BPOM telah merilis daftar susu yang telah dinyatakan bebas bakteri itu.

Ribka menambahkan kasus ini bukan persoalan baru dan sudah mencuat sejak 2008. “Memang tidak ada kejelasan sikap dari pemerintah soal ini,” kata dia. Karena itu, Komisi IX akan mendorong Menteri Kesehatan untuk membuka persoalan itu karena publik berhak untuk tahu.

DPR Panggil Menkes Bahas Susu Berbakteri
Mengapa keputusan MA tak kunjung dieksekusi. Betulkah ada kepentingan dibalik kasus ini.
Rabu, 16 Februari 2011, 23:28 WIB

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih

Kasus susu berbakteri kini bergulir ke Senayan. Kamis 17 Februari 2011, Dewan Perwakilan Rakyat memanggil sejumlah pihak yang terkait dengan kasus ini. Anggota dewan akan mempersoalkan mengapa pemerintah tidak kunjung mengumumkan nama sejumlah merk susu yang mengandung Enterobacter Sakazakii itu.

Mereka yang diundang ke Komisi IX yang membidangi masalah kesehatan itu adalah Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, dan para peneliti dari Institut Pertanian Bogor. Mewakili para konsumen, komisi itu juga mengundang Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Sebagaimana luas diberitakan, kasus ini bermula dari gugatan yang dilayangkan seorang pengacara bernama David Tobing ke Pengadilan Negeri Jakarta. Berbekal hasil penelitian IPB tentang sejumlah merk susu yang mengandung bakteri berbahaya itu, David meminta pengadilan agar memerintahkan Departemen Kesehatan dan IPB mengumumkan nama-nama susu itu.

Dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi hingga keputusan kasasi di Mahkamah Agung, David memenangkan perkara ini. Keputusan dari mahkamah itu terbit tanggal 26 April 2010. Dalam amar putusan tim hakim yang dipimpin Ketua MA, Harifin Tumpa, itu disebutkan bahwa penelitian yang menyangkut kepentingan publik haruslah diumumkan.

Sebab kasus ini, “Bisa meresahkan masyarakat dan merugikan konsumen,” kata Harifin Tumpa.

Kamis 10 Februari 2011 lalu, Menteri Kesehatan bersama Institut Pertanian Bogor, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Ikatan Dokter Anak Indonesia menggelar jumpa pers. Semula publik menduga siaran pers ini akan mengumumkan nama-nama merk susu yang mengandung bakteri itu. Faktanya tidak. Endang Rahayau beralasan bahwa amar putusan kasasi itu belum diterima. Jadilah sampai hari ini nama-nama merk susu itu belum diumumkan.

Itu sebabnya Dewan Perwakilan Rakyat memanggil sejumlah lembaga yang terkait kasus ini. “Rencananya sekitar jam 10 pagi kami akan Rapat Kerja dengan Menkes, Badan POM, Dekan Fakultas Peternakan IPB, dan YLKI,” kata Wakil Ketua Komisi IX DPR, Irgan Chairul Mahfiz, kepada VIVAnews.com.

Anggota DPR akan mempertanyakan sejauh mana realisasi pelaksanaan keputusan Mahkamah Agung itu. Masyarakat, kata Irgan, dilanda kekhawatiran dan selalu bertanya apakah susu formula yang kini beredar itu berbahaya bagi anak-anak mereka.

Anggota Komisi IX dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, mensinyalir ada kepentingan lain dibalik tertundanya pengumuman nama merk sejumlah susu itu. “Pemerintah harus menjawab riset dengan riset. Bukan dengan asumsi pasar,” kritik Rieke dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Rabu 16 Februari 2011.

Langkah David Tobing

David bersumpah mengejar terus kasus ini hingga pemerintah mengumumkan merk sejumlah susu itu. Rabu, 16 Februari 2011, pengacara yang juga pernah menggugat logo Garuda di kaus tim nasional sepakbola Indonesia itu, mendatangi Komisi Informasi Pusat. Komisi yang dibentuk berdasarkan undang-undang itu berwewenang menentukan apakah sebuah informasi masuk kategori informasi publik atau tidak.

David berharap, lewat komisi itu daftar susu yang tercemar itu bisa diperjuangkan untuk dibuka. “Saya akan berkonsultasi saja, karena sudah ada putusan MA dan ada lembaga publik yang tidak mau menjalani putusan itu,” kata David ML Tobing saat dihubungi .

Dalam surat disampaikan David kepada komisi itu, yang salinannya dikirim ke VIVANews.com, dia menyayangkan jawaban Menteri Kesehatan dalam konferensi pers tanggal 10 Februari 2011. Dalam temu wartawan itu, kata David, seharusnya Menteri Kesehatan mengumumkan nama-nama merk susu itu.

Dalam berbagai kesempatan, lanjutnya, Menteri Endang beralasan bahwa departemennya tidak memiliki hasil penelitian IPB itu. Padahal bukan sesuatu yang sulit meminta hasil penelitian itu untuk diumumkan.

Komisi Informasi Pusat menilai Kementerian Kesehatan, BPOM, dan IPB seharusnya mengumumkan kepada masyarakat tentang susu formula yang diduga mengandung bakteri Sakazakii itu. Karena hal itu sesuai dengan putusan dari Mahkamah Agung. “Asumsinya memang harus dibuka. Karena itu informasi publik yang harus dibuka,” kata komisioner Komisi Informasi Pusat, Dono Prasetyo, saat dihubungi VIVAnews.com.

Menurut Dono, Kemenkes, BPOM, dan IPB juga harus menjelaskan kepada publik mengenai metode penelitian yang dilakukan terhadap susu formula tersebut. BPOM harus memberikan informasi tersebut secara berkala. Meski demikian, Dono mengakui pihaknya akan membaca terlebih dahulu putusan dari Mahkamah Agung. “Harus dibaca bersama, karena kami juga masih belum tahu detilnya seperti apa,” katanya.

Jawaban Menteri Endang

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih membantah tudingan adanya kongkalikong antara pemerintah dengan sejumlah perusahaan susu formula yang mengandung bakteri berbahaya itu. Justru pemerintah periode inilah, katanya, yang merampungkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang penggunaan Air Susu Ibu (RPP-ASI), yang di dalamnya mencantumkan larangan iklan produk susu formula bagi bayi berusia di bawah satu tahun.

“Kalian tahu sendiri. Saya menyusun RPP tentang ASI. Jadi, kalau ada tudingan tentang itu, aneh deh,” kata Endang usai melantik Komite Internship Dokter Indonesia dan Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia di Jakarta, Rabu, 16 Februari 2011.

Lalu, mengapa produk-produk yang disinyalir terkontaminasi bakteri itu tidak kunjung diumumkan ke publik? “Yang mengurus soal penelitian itu kan bukan kami. Kami dan Badan POM hanya mengurus keamanan pangan saja. Jadi, bukan kewenangan kami mengumumkan hasil penelitian itu,” Endang menjelaskan.

Menteri Endang memastikan semua merk susu formula yang saat ini beredar di pasar, aman dikonsumsi. Tidak ada lagi yang terkontaminasi bakteri. Itu karena sejak 2008 sudah diatur larangan penggunaan bakteri sakazakii. “Kalau mau dilakukan sita jaminan silakan saja. Tapi sebenarnya, kewenangan sita jaminan ini ada di Badan POM bukan di Kementerian Kesehatan, ” katanya.

SUSU MENGANDUNG BAKTERI PERUSAK OTAK ANAK SEMAKIN MENGHAWATIRKAN DPR TURUN TANGAN

RADAR JAMBI:TONI.S

DPR Minta Merek Sufor Tercemar Diumumkan

Ribka Tjiptaning Proletariyati.

Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning meminta Kemenkes, BPOM dan IPB untuk mengumumkan merek-merek susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi bakteri berdasarkan penelitian 2003-2006 demi kepentingan keselamatan publik. “Kami mendesak agar pihak yang disebutkan dalam Putusan Kasasi MA itu untuk segera mengumumkan hasil penelitian IPB atas susu formula dan makanan bayi yang beredar pada periode 2003-2006,” katanya di Jakarta, Minggu (13/2/2011).

Menurutnya, keputusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010, sebetulnya sudah jelas mewajibkan Kemenkes, BPOM dan IPB wajib menginformasikan merek susu terkontaminasi ke publik.

MA menuangkan perintah itu dalam putusan kasasi yang memenangkan gugatan David M. Tobing yang memperkarakan hasil penelitian Institut Pertanian Bogor terhadap 22 sampel susu formula dan makanan bayi yang beredar pada periode 2003-2006.

Hasil riset yang kemudian dipublikasikan 22,7 persen dari sampel tercemar bakteri Enterobacter sakazakii, jenis bakteri yang menyerang selaput otak dan jaringan pencernaan bayi.

Tetapi sampai hari ini, pihak-pihak yang disebutkan dalam putusan MA tersebut belum mengumumkan ke publik. Dikatakan Ribka, ada kesan pihak-pihak yang dimaksud enggan menjalankan keputusan hukum tersebut.

“Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih malah asyik berorasi perihal tidak berbahayanya bakteri ES dan berdalih bahwa pihaknya tidak tahu merek susu formula yang dituding mengandung bakteri Enterobacter sakazakii itu,” katanya.

Sedangkan BPOM menjawab dengan melansir hasil penelitian BPOM atas produk sejenis yang beredar sejak 2008 hingga 2010, yang hasilnya tak ada yang tercemar bakteri.

Di masyarakat sendiri, kata Ribka kasus ini telah memicu keresahan, terlihat dari adanya 173 pengaduan yang dialamatkan ke kantor Komnas Perlindungan Anak serta berbagai lembaga menyuarakan dan mendesak agar pihak-pihak yang diperintahkan oleh MA untuk mengumumkan.

Dari fakta itu, Ribka melihat Kementerian Kesehatan, BPOM, dan IPB terkesan melindungi produsen susu formula dari pada melindungi kepentingan keselamatan publik dan bersikap melawan hukum, dengan tidak menjalankan keputusan MA.

“Ini preseden buruk bagi penengakkan hukum. Sikap tersebut tidak sejalan dengan penegakkan keterbukaan informasi publik, apalagi informasi yang bersinggungan dengan keselamatan publik,” katanya.

Keresahan di masyarakat atas kasus ini, katanya bisa berdampak terhadap sebagian anak Indonesia yang akan kekurangan asupan gizi dari susu karena orangtuanya khawatir dengan susu yang beredar saat ini.

Situasi ini, tentu merugikan bukan saja pengusaha tapi juga buruh yang bekerja di sektor tersebut, dan juga peternak sapi perah di pedesaan dan juga akan mendorong terjadinya perang dagang dalam industri susu formula dan makanan bayi.

Ikuti Talkshow “Bebas Bakteri dengan ASI”

Rabu, 16 Februari 2011 | 15:29 WIB
WARDAH FAJRI Kompas Female menggelar talkshow keluarga bertema Mengungkapkan Cinta pada Pasangan dan Anak di Supermal Karawaci Tangerang, Minggu (13/2/2011). Menghadirkan Arzeti Bilbina dan psikiater dr Eka Viora, SpKJ dari klinik Angsamerah.

Heboh tentang pemberitaan susu formula berbakteri akhir-akhir ini membuat sebagian besar orang tua resah. Tanda tanya mengenai nama-nama merek susu formula di pasaran yang tercemar Enterobacter Sakazakii belum juga terjawab hingga saat ini.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan BPOM mengklaim tidak pernah mengetahui hasil penelitian tersebut. Sedangkan IPB selaku lembaga yang meneliti cemaran bakteri itu belum berkenan mengumumkannya kepada publik dengan alasan etika dan independensi.

Kenyataan ini jelas membuat masyarakat bingung karena tak ada pihak yang dapat mengklarifikasi temuan susu tercemar tersebut. Minimnya informasi dan pengetahuan masyarakat mengenai nutrisi yang tepat bagi bayi juga membuat isu ini bisa menjadi bertambah pelik.

Pada beberapa kesempatan, Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih berulangkali mengimbau masyarakat untuk memberi Air Susu Ibu (ASI) untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri membahayakan pada bayi.

ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi mengingat beribu manfaat yang diberikannya mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh, membuat cerdas, hingga menciptakan ikatan kuat antara ibu dan anak.

“Kami tidak menganjurkan bayi kurang dari 6 bulan minum susu formula. Harus disusui eksklusif dan diteruskan sampai dua tahun dengan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu),” ungkap Menkes pekan lalu.

Nah, informasi tentang keunggulan ASI mencegah kontaminasi bakteri mungkin belum banyak yang tersampaikan kepada masyarakat. Apa saja dan bagaimana memberi ASI secara maksimal khususnya bagi para ibu yang bekerja pun belum sepenuhnya dipahami masyarakat.

KOMPAS.com dalam kegiatan promonya pekan ini mengadakan talkshow kesehatan bertajuk Mau Bebas Bakteri, Berikan ASI!. Acara ini akan digelar di Atrium Mall Pejaten Village pada Sabtu, 19 Februari 2011 mulai pukul 14.00 WIB.

Acara yang digagas kanal KompasHealth KOMPAS.com ini akan mengundang konselor laktasi yang juga Ketua AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Mia Susanto dan penyanyi Widi AB Three yang kini tengah sibuk membesarkan anaknya.

Selain talkshow kesehatan, pada sesi sebelumnya yakni pada pukul 13.00 juga akan diadakan talkshow lain dengan topik properti. Talkshow yang digagas Kanal Properti KOMPAS.com ini akan menghadirkan Stevens Hoki Plus yang akan membahas tentang bisnis, propreti dan keuangan dari sisi fengsui.

Jadi, kosongkan agenda Anda untuk hari Sabtu nanti, lalu ajak keluarga Anda ke Mall Pejaten Village untuk mengikuti acara yang akan bertabur hadiah ini.


Menkes: Tak Mungkin Laksanakan Putusan MA

Kamis, 17 Februari 2011 | 13:47 WIB

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menegaskan, pemerintah tidak mungkin melaksanakan putusan Mahkamah Agung (MA) tertanggal 26 April 2010 yang mengharuskan Kemenkes, BPOM dan IPB untuk mengumumkan nama produsen susu formula yang disebut-sebut mengandung bakteri Enterobacter sakazakii.

Menurut Endang, Kementerian Kesehatan tidak pernah terlibat dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB selama kurun waktu 2003-2006 tersebut.

“Kementerian Kesehatan tidak pernah mengetahui merk dan jenis susu formula yang diteliti IPB, sehingga putusan kasasi MA tidak mungkin dapat dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan,” katanya di depan anggota Komisi IX DPR RI, Kamis (17/2/2011).

Menurut Endang, penelitian yang diperkarakan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini dilakukan atas nama Fakultas Kedokteran Hewan IPB sebagai institusi perguruan tinggi yang memiliki kebebasan akademik. Sementara itu, Kementerian Kesehatan tak pernah terlibat, ataupun dimintai ijin penelitian.

Endang mengatakan, pemerintah hanya mengetahui bahwa kemudian dilayangkan gugatan terhadap hasil penelitian Fakultas Kedokteran Hewan IPB terhadap 22 sampel susu formula bayi dalam kurun waktu April-Juni 2006 yang berjudul ‘Potensi Kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus akibat Infeksi Enterobacter sakazakii yang diisolasi dari Makanan Bayi dan Susu Forrmula’. Penelitian ini dipublikasikan melalui website IPB pada tanggal 17 Februari 2008.

Kembali ke Index Topik Pilihan
Kasus Susu Berbakteri
IPB: Kami dalam Posisi Sulit

Institut Pertanian Bogor kembali menyatakan alasan di balik penolakan mengumumkan hasil penelitian tentang cemaran susu formula. IPB bersikeras bahwa mengumumkan merek susu formula yang sampelnya dulu pernah mengandung E sakazakii bukanlah kewenangannya dan penelitian yang menjadi dasar bukanlah penelitian pengawasan.

Rektor IPB Herry Suhardiyanto menegaskan, pihaknya tidak dapat mengumumkan merek susu mengandung Enterobacter sakazakii yang digunakan dalam sampel penelitian karena bertentangan dengan etika penelitian dan etika akademik.

Pada tahun 2008, IPB memublikasikan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan. Dari penelitian itu ditemukan 22,73 persen dari 22 sampel susu formula yang diteliti mengandung E sakazakii. Peneliti mengambil sampel penelitian produk susu dan makanan bayi yang beredar sejak tahun 2003 hingga 2006. Penelitian dilakukan terhadap mencit (anak tikus).

“Memang kami saat ini dalam situasi sulit. Di satu sisi, kami harus menjunjung tinggi etika akademik, di sisi lain harus patuh hukum. Saya berharap akan ada jalan keluar yang berlandaskan hukum agar kami tak perlu melanggar etika akademik karena mengumumkan merek susu formula yang sampelnya dulu pernah mengandung E sakazakii. Yang jelas, susu formula yang sekarang beredar, kan, aman,” ungkap Herry dalam pesan singkat kepada KOMPAS.com, Minggu (13/2/2011).

Herry menjelaskan, penelitian tentang bakteri E sakazakii yang dilakukan oleh Dr Sri Estuningsih itu bertujuan untuk isolasi bakteri dan kajian virologi, sebagai bagian dari kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

“Selanjutnya, kita jadi dapat mengembangkan standar mutu pangan. Penelitian pengawasan keamanan pangan yang mengungkap merek susu formula yang aman dan tidak bukan kewenangan IPB, melainkan BPOM,” ujarnya.

Dalam hal bakteri E sakazakii, lanjut Herry, justru penelitian IPB menjadi salah satu rujukan standar mutu keamanan susu formula dengan keterlibatan Sri Estuningsih dalam sidang-sidang badan standar pangan tingkat dunia atau Codex Alimentarius Comission (CAC).

“Untuk keberpihakan kepada kepentingan masyarakat, jangan ragukan concern IPB karena salah satu tridharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat dan IPB punya sejarah panjang dalam hal ini,” tuturnya menegaskan.

Ditanya apakah IPB akan memenuhi kewajiban untuk melaksanakan putusan kasasi MA jika sudah menerima surat pemberitahuan dari pengadilan, Herry tidak menjawabnya secara pasti.

“Kami memang sudah memikirkan beberapa alternatif langkah. Akan kami pilih alternatif terbaik untuk masyarakat dan bangsa. Saya berharap akan ada jalan keluar yang berlandaskan hukum agar kami tak perlu melanggar etika akademik,” paparnya.

Heboh Susu Bakteri
Raker Susu Bakteri, Menkes Telat

Kamis, 17 Februari 2011 | 11:02 WIB

lina Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (tengah).

Komisi IX DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Kepala BPOM Kustantinah mengenai susu berbakteri, Kamis (17/2/2011). Sedianya pertemuan dimulai pukul 10.00. Namun, rapat baru dimulai setelah 20 menit berlalu. Rapat terlambat karena Endang belum juga tiba di DPR.

“Menurut keterangan yang saya terima, Bu Menkes baru saja selesai mengikuti raker dengan Menkokesra. Juga Kepala BPOM. Saat ini masih berada di jalan,” kata Wakil Ketua Komisi IX DPR Ahmad Nizar Shihab. Shihab pun menskors rapat selama setengah jam. Namun, dengan usulan anggota lainnya, skors diteruskan sampai Endang tiba di ruang rapat.

Selain Endang dan Kustantinah, Komisi juga kedatangan para peneliti IPB yang terlibat dalam penelitian susu berbakteri. Shihab mengatakan, keterangan pemerintah dan akademisi ini diperlukan menyusul mencuatnya kembali persoalan susu berbakteri pasca-keluarnya putusan Mahkamah Agung. Menurutnya, begitu banyak kesimpangsiuran mengenai kualitas susu formula selama ini.

Sejak 2003-2006 memang banyak masalah. Setelah dipublikasikan pada tahun 2008, susu formula aman dikonsumsi, tetapi kini mencuat kembali. “Sementara itu, pemeriksaan BPOM tidak ada apa-apa, ini dua hal yang berbeda,” katanya.

Meskipun demikian, Shihab mengatakan, masyarakat harus tenang karena pada dasarnya tidak terjadi apa-apa. Menurutnya, bakteri otomatis akan mati dengan pemanasan pada suhu 60 derajat. Yang penting, masyarakat harus menjaga kebersihan.

“Enterobacter Sakazakii” yang Membuat Panik
Editor: Lusia Kus Anna

M Zaid Wahyudi Tidak segera diumumkannya susu formula mengandung bakteri Enterobacter sakazakii, sesuai hasil penelitian Institut Pertanian Bogor, membuat banyak orangtua panik. Meskipun sampel susu yang diteliti diambil pada 2003-2006, rasa resah itu juga dialami orangtua yang baru memiliki bayi.

Bakteri Enterobacter sakazakii atau sesuai penamaan baru disebut Cronobacter sakazakii adalah salah satu jenis bakteri patogen yang bisa menimbulkan penyakit. Sesuai namanya, enterobacter, bakteri ini juga ditemukan dalam saluran pencernaan manusia dan hewan.

Guru besar Fakultas Teknologi Pertanian yang juga ahli mikrobiologi pangan Universitas Gadjah Mada, Endang Sutriswati Rahayu, Jumat (11/2) di Jakarta, mengatakan, E sakazakii ada di mana-mana, termasuk di udara. Karena itu, sumber pencemarannya pun bisa dari mana-mana. ”Hingga saat ini belum diketahui dosis infeksi bakteri ini hingga dapat menimbulkan penyakit,” katanya.

Selain pada susu formula, E sakazakii banyak ditemui dalam berbagai produk olahan pangan lain, seperti keju atau roti fermentasi.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia Badriul Hegar mengatakan, bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak atau meningitis, adanya bakteri dalam darah (bakteremia), penyebaran bakteri patogen dalam jaringan darah (sepsis), radang usus halus dan usus bear (enterokolitis), hingga kematian sel (necrosis).

Meskipun bakteri ini dapat menyerang berbagai kelompok usia, bayi adalah kelompok paling rentan. Risiko makin besar pada bayi berumur kurang dari 28 hari, bayi lahir prematur, bayi dengan berat lahir kurang dari 2 kilogram, atau bayi berimunitas rendah.

Publikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 13 Februari 2004 menyebutkan, sejak 1961-2003 hanya ditemukan 48 bayi sakit karena terinfeksi E sakazakii.

Susu formula

Badriul mengatakan, susu formula adalah susu yang diperuntukkan sebagai makanan khusus bagi bayi karena kesesuaiannya untuk pengganti air susu ibu (ASI). Susu formula ini hanya bagi bayi hingga usia 12 bulan. Susu untuk anak balita tak disebut susu formula.

WHO dalam Petunjuk Penyiapan, Penyimpanan, dan Perlakuan Susu Formula (2007) menyebutkan, tak ada susu formula yang sepenuhnya steril. Potensi pencemaran susu formula terhadap bayi membesar jika proses penyimpanan dan penyiapan bagi bayi tidak sehat.

Ahli mikrobiologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Pingkan Aditiawati, menegaskan, tidak ada makanan olahan, termasuk susu formula, yang bebas bakteri 100 persen. Karena itu, setiap produksi makanan olahan selalu mencantumkan masa kedaluwarsanya.

”Sistem sterilisasi punya batas waktu. Semakin mendekati masa kedaluwarsa, jumlah bakteri dalam makanan semakin besar,” katanya.

Saat sampel penelitian susu formula dilakukan IPB tahun 2003-2006, saat itu belum ada prosedur pengecekan E sakazakii di dunia. Codex Alimentarius Commission sebagai badan bentukan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pun baru mengatur pengecekan E sakazakii untuk susu formula pada Juli 2008. Sementara penelitian IPB diumumkan Februari 2008.

Utamakan ASI

Belajar dari kasus ini, bayi sebaiknya diberi ASI. Jika ASI tak langsung keluar setelah melahirkan, orangtua maupun dokter tak perlu buru-buru memberi susu formula kepada bayi. Bayi punya daya tahan hingga tiga hari sejak dilahirkan tanpa ASI dari ibunya. ”ASI adalah susu terbaik, bukan saja karena kandungannya, tetapi juga dalam kemasan steril,” kata Badriul.

Selama proses menunggu itu sebaiknya bayi terus didorong mencecap payudara ibunya. Cara ini dapat merangsang keluarnya ASI dan semakin mendekatkan hubungan batin ibu dan bayi.

Selain itu, ibu juga harus yakin keunggulan dan kecukupan ASI-nya. Kenaikan berat badan bayi setiap bulan menandakan kecukupan ASI. Bayi lebih sering lapar adalah wajar karena ASI lebih mudah dicerna dan cepat mengosongkan lambung.

Bila ada alasan medik tertentu sehingga bayi terpaksa perlu susu formula maka orangtua tak perlu waswas. Syaratnya, prosedur penyiapan, penyimpanan, dan perlakuan terhadap susu formula harus benar.

“Anak-anakku” akan Terus Minum Susu

RODERICK ADRIAN MOZES Seorang anak asuh bermain di tempat tidurnya di Panti Asuhan Pondok si Boncel, Jalan Desa Putra, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (11/2/2011). Dalam sebulan panti asuhan ini menghabiskan 145 hingga 150 kotak susu formula ukuran 900 gram untuk memenuhi kebutuhan 93 anak asuh usia nol hingga enam tahun.

RODERICK ADRIAN MOZES

Suster M Philomina bermain dengan seorang anak asuh di Panti Asuhan Pondok si Boncel, Jalan Desa Putra, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (11/2/2011). Dalam sebulan panti asuhan ini menghabiskan 145 hingga 150 kotak susu formula ukuran 900 gram untuk memenuhi kebutuhan 93 anak asuh usia nol hingga enam tahun.

Anak asuh di Panti Asuhan Pondok si Boncel, Jalan Desa Putra, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (11/2/2011). Dalam sebulan panti asuhan ini menghabiskan 145 hingga 150 kotak susu formula ukuran 900 gram untuk memenuhi kebutuhan 93 anak asuh usia nol hingga enam tahun.

Menghangatnya kembali isu tentang susu formula dan makanan bayi yang tercemar bakteri tidak membuat sebagian ibu rumah tangga khawatir.
Tak hanya para ibu rumah tangga, pengelola panti asuhan yang tidak punya pilihan untuk memberikan susu formula kepada anak-anak yatim piatu pun, mengaku tidak terlalu terpengaruh oleh isu yang kembali mengemuka menyusul penolakan pihak IPB untuk mengumumkan hasil penelitian mereka selama kurun waktu 2003-2006 itu.
Pimpinan Panti Asuhan Pondok si Boncel, Suster M Philomina, misalnya. Dia tetap berkomitmen untuk terus memberikan susu kepada anak asuhnya yang tidak bisa memperoleh air susu ibu.
“Kami tidak khawatir dengan pemberitaan ini, anak-anakku (anak asuh-red) akan tetap mengonsumsi susu. Mendengar pemberitaan ini, saya hanya bisa berdoa supaya susu yang anak-anak saya minum tidak masuk daftar,” kata Suster Philo, saat di temui di Panti Asuhan Pondok si Boncel, Jalan Desa Putera, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (11/2/2011) silam.
Pondok si Boncel ini adalah panti yang khusus merawat anak-anak usia nol hingga enam tahun. Ada 93 anak yang mereka asuh dan tiap harinya pengurus panti asuhan memberikan susu kepada mereka.
Untuk anak usia nol hingga 1 tahun, mereka diberikan susu setiap dua jam. Untuk anak-anak lain rutin minum susu dari pagi, sore, dan malam.
“Saya tidak melihat ada masalah dengan anak-anak. Dari awal, susu sudah menjadi menu wajib bagi mereka, sehingga jangan sampai anak-anak saya tidak minum susu karena berita yang beredar sekarang,” kata suster Philo.
Untuk memenuhi kebutuhan susu anak-anak, Pondok si Boncel menyediakan anggaran dan berharap pada uluran tangan dermawan. Dalam sebulan mereka bisa menghabiskan 145 hingga 150 kotak susu formula ukuran 900 gram, belum lagi mereka selalu memberikan bekal susu kotak kepada anak-anak asuh yang bersekolah.
“Hitung saja, ada 50-an anak yang sekolah, dari lima hari sekolah, empat hari mereka diberikan bekal susu kotak, kali dalam sebulan, jadi kurang lebih kami membutuhkan 800 susu kotak untuk anak-anak yang sekolah. Puji Tuhan, selalu saja ada susu untuk anak-anak saya,” tutur Suster Philo.
Pengurus Pondok si Boncel cukup selektif dalam menerima sumbangan susu. Termasuk masalah tanggal kedaluwarsa. “Kami selalu melihat tanggal kedaluwarsanya, kalo dalam tiga bulan sudah habis, kami tidak bisa menerima, karena ini berpengaruh pada kesehatan anak-anak. Untungnya sumbangan susu yang kami terima, tanggal kedaluwarsanya masih lama, bahkan ada yang sampai tahun 2012,” kata Suster Philo.

SUSU BERBAKTERI YANG DAPAT MERUSAK OTAK SEMAKIN HEBOH

RADAR JAMBI:TONI.S

Rapat Kerja
DPR Desak Umumkan Susu Berbakteri

Kamis, 17 Februari 2011 | 14:41 WIB
Shutter Stock Ilustrasi: Sebelumnya, hasil penelitian Institur Pertanian Bogor (IPB) menemukan banyak susu formula anak-anak dan makanan bayi yang mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii.

Komisi IX DPR mendesak Menteri Kesehatan, Kepala BPOM, dan Fakultas Kedokteran Hewan IPB untuk segera mengumumkan merek-merek susu berbakteri yang pernah dipublikasikan di dalam website IPB pada tahun 2008.

“Saya kira tak ada lagi alasan untuk tidak mau mengumumkan nama-nama susu tersebut. Dibuka saja. Menurut saya, sudah ada putusan MA, jadi tak ada alasan lagi untuk menolaknya,” ungkap anggota Komisi IX, Rieke Dyah Pitaloka, di ruang rapat Komisi IX, Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Kamis (17/2/2011).

Dalam rapat tersebut, sejumlah anggota mengancam akan meninggalkan ruangan rapat jika Menkes tidak mau mengumumkan produk yang telah diteliti oleh IPB tersebut. Gandung Pardiman dari Fraksi Golkar mempertanyakan apa yang ditakutkan oleh IPB untuk mengumumkan nama-nama susu berbakteri itu. “Apa yang ditakutkan? Kenapa enggak berani? Jangan beralibi,” ujarnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB I Wayan Teguh Wibawan menolak mengumumkan merek-merek susu bubuk formula tersebut karena belum menerima salinan putusan yang asli dari Mahkamah Agung. Pasalnya, IPB tidak ingin tersandung persoalan hukum setelahnya.

“IPB tidak akan melawan hukum. Namun, jangan sampai juga kami terperosok karena ini bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan. Oleh karenanya, tidak dijadikan alat bukti atau menjadi dasar untuk melakukan upaya hukum. Jadi, jangan dipojokkan IPB karena kita belum menerima isinya,” ungkapnya.

Penjelasan Wayan langsung ditolak oleh mayoritas anggota Dewan. Menurut para anggota Dewan, IPB cuma ingin menjauhkan diri dari tanggung jawab dalam mengungkap merek-merek susu tersebut. Namun, Wayan kembali menegaskan bahwa akan lebih baik dan lebih percaya diri bagi IPB jika sudah menerima amar putusan yang asli. “Saat ini tidak (mau mengumumkan), sampai amar putusan kami terima,” tuturnya.

Sumber : Radar Jambi

 

3 Comments

  1. Genial dispatch and also this posting served myself a large amount in my institution assignement. Gratefulness for your information.

  2. Конец лета наступает, депрессуху предвещает
    Собираем чемодан и летим в далекий http://tai.com

  3. Loganairportbostonlimo.net Logan terminal Boston ma Chauffeur driven car 6175247777

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

-->