Eksekutor Pembantaian Empat Keluarga Mulyani di Kota Probolinggo
Eksekutor Pembantaian
Empat Keluarga Mulyani
PROBOLINGGO – Miarto, 31, salah satu eksekutor pembantaian keluarga pemilik ruko Pusaka Jaya Kota Probolinggo, ternyata tak sekali ini saja melakukan pembunuhan. Sebelumnya, warga Desa Pajarakan, Randuagung Lumajang itu pernah membunuh tetangganya sendiri, yakni Mistam. Pembunuhan dilakukan Miarto terhadap Mistam baru terungkap kini. Yakni saat Miarto disidik atas kasus pembantaian terhadap empat orang keluarga pemilik ruko Pusaka Jaya.
Yakni, Mulyani, 58, dan dua anaknya, Yuli Melyanti, 28, dan Freddy Yuwono, 22, serta budhe Mulyani, yakni Sri Murni, 76. “Setelah kami melakukan pemeriksaan mendalam, ternyata dia (Miarto, Red) pernah melakukan perbuatan yang sama (pembunuhan),” jelas Kapolres Probolinggo Kota AKBP Agus Wijayanto melalui Kasatreskrim AKP Agus I Supriyanto kemarin (28/2).
Kasatreskrim membeber, aksi Miarto membunuh Mistam terjadi setahun lalu. Perkaranya juga sepele. Miarto sakit hati, cemburu, lantaran istrinya, Parti, sering bertemu Mistam. Diketahui, Parti saat ini juga dijebloskan ke penjara karena menjadi salah satu tersangka kasus pembantaian keluarga Pusaka Jaya.
Ceritanya, sebelum jadi istri Miarto, Parti istri Mistam. Sekitar setahun lalu, pasangan ini di ambang perceraian. Mistam secara lisan menjatuhkan talak. Di tengah kondisi itulah Miarto melakukan pembunuhan terhadap Mistam.
“Waktu itu mereka (Mistam dan Parti, Red) belum berpisah resmi. Baru talak (cerai) omongan saja. Mistam juga sering ketemu Parti dan ngasih uang belanja, tanpa sepengetahuan Miarto,” jelas Kasatreskrim.
Namun, meski masih berstatus istri Mistam, Parti sudah tinggal serumah dengan Miarto. Sebaliknya, Parti dan Mistam sering bertemu secara sembunyi-sembunyi.
Pertemuan itu dilakukan mereka di rumah seorang tetangganya. Lebih dari itu, Mistam kerap mengontak Parti via telepon.
Ternyata, pertemuan Parti dengan Mistam terendus Miarto. Ia pun menyelidikinya kabar tersebut.
Suatu saat Miarto mendapati handphone (HP) Parti ada panggilan. “Waktu itu, langsung diangkat Miarto. Ternyata yang nelepon Mistam,” beber Kasatreskrim.
Saat menerima panggilan dari Mistam itu Miarto berpura-pura jadi Parti. Miarto lalu mengajak Mistam bertemu di sebuah tempat. Malam itu pula mereka bertemu di perempatan jalan desa sekira 2 km dari rumah Miarto.
Begitu bertemu di tempat dimaksud, Mistam dan Miarto cekcok berlanjut saling mengeluarkan celurit. Ujungnya, Mistam kalah. Ia tewas oleh celuritnya sendiri setelah dirampas Miarto.
“Waktu itu celuritnya Miarto patah. Sedangkan celuritnya Mistam terjatuh. Lalu, Miarto mengambilnya dan membacokkan ke Mistam,” jelas Kasatreskrim yang mantan Katim Riksa Densus 88 itu.
Informasinya, akibat carok itu, Miarto mengalami luka di bagian punggung dan telapak kaki kanan. Lalu, Miarto membuang barang bukti (BB) baju dan celuritnya ke di septic tank di belakang rumahnya.
Sedangkan korbannya, dibiarkan dan bersimbah darah. Menurut Kasatreskrim, kejadian itu baru diketahui orang pada pagi harinya sekira pukul 04.00.
Dan pembunuhan Mistam baru terungkap saat ini, saat Polres Probolinggo Kota berhasil mengungkap kasus pembantaian keluarga pemilik ruko Pusaka Jaya. “Kami lakukan kerja sama dengan (Polres) Lumajang. Setelah kami selesai, (Polres) Lumajang akan ke sini untuk melakukan pemeriksaan,” jelas Kasatreskrim yang bergelar magister hukum itu.(rud/yud/jpnn)
Sumber: JawaPosGroup